Hendra Setiawan Comeback di Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis Senior 2025: Duet, Peluang, dan Peta Persaingan
Hendra Setiawan kembali ke panggung dunia. Bukan di level tur profesional, melainkan di Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis Senior 2025 yang berlangsung di Pattaya, Thailand, pada 7–14 September 2025. Meski berbeda dari hiruk-pikuk BWF World Tour, atmosfernya tetap kompetitif. Para legenda berkumpul. Para mantan juara menyalakan kembali api rivalitas. Dan Indonesia, seperti biasa, datang dengan misi membawa pulang gelar.
Siapa Duet Hendra? Jawabannya Ganda: Debby Susanto & Tony Gunawan
Comeback Hendra terasa spesial karena ia turun di dua nomor sekaligus. Di ganda campuran kelompok usia 35+, ia berpasangan dengan Debby Susanto. Keduanya sama-sama kaya pengalaman. Hendra piawai membaca pola, Debby tajam di depan net. Kombinasi ini, jujur saja, terlihat menjanjikan.
Di sektor ganda putra 40+, Hendra juga tampil bersama sahabat lama yang sama legendarisnya: Tony Gunawan. Keduanya pernah berbagi podium, berbagi cerita, dan berbagi gaya main yang elegan. Bedanya, Tony tampil di bawah bendera Amerika Serikat. Walau membawa bendera berbeda, ikatan permainan mereka tetap akrab. Ritme mereka selaras. Dan itu bisa jadi kartu truf di laga-laga penentu.
Mengapa Kejuaraan Dunia Senior Tetap Bergengsi?
Turnamen ini memang bukan bagian dari kalender World Tour. Namun, level kompetitifnya tinggi. Alasannya jelas. Peserta datang dari kalangan 35 tahun ke atas, tetapi banyak di antaranya adalah ex-world champion, peraih medali olimpiade, hingga mantan andalan tim nasional. Mereka membawa dua hal sekaligus: kualitas teknik dan kecerdasan taktik.
Selain itu, format pertandingan yang rapat memaksa pemain menjaga efisiensi reli, menekan error, dan memaksimalkan pukulan pembuka. Di level ini, pertandingan sering dimenangkan oleh shot quality dan keputusan tepat dalam dua–tiga pukulan pertama. Karena itu, pemain berpengalaman seperti Hendra biasanya unggul.
Flashback Singkat: DNA Pemenang Sang Kapten
Nama Hendra melekat dengan kata stabil, dingin, dan efisien. Ia menjuarai Olimpiade Beijing 2008, memegang gelar Kejuaraan Dunia, serta menempati kursi nomor satu dunia di ganda putra selama bertahun-tahun. Ia jarang bermain gegabah. Ia menghukum kok yang setengah matang. Ia menutup celah tanpa banyak drama. Itulah alasan mengapa comeback ini menarik. Kita tahu kualitasnya. Kita juga tahu ia selalu datang dengan rencana.
Duet dengan Debby Susanto: Taktik yang Realistis dan Tajam
Debby punya reputasi sebagai pemain front-court specialist. Ia cerdas memotong jalur kok, agresif menekan net, dan disiplin menjaga formasi. Hendra, di sisi lain, mahir membuka ruang dengan servis presisi, flat drive, dan push ke area pinggang lawan. Bila keduanya sinkron, skenarionya jelas:
- Servis-returns presisi untuk memaksa lawan mengangkat kok setengah matang.
- Debby mengambil net sedini mungkin; Hendra mengunci mid-court dan sisi belakang.
- Transisi menyerang cepat setelah reli ketiga; jangan beri lawan waktu menyiapkan counter.
Dengan pola tersebut, mereka bisa menghabiskan reli tanpa memerlukan smash kencang yang menguras stamina. Efisien, klinis, dan hemat energi. Persis gaya main veteran juara.
Berduet dengan Tony Gunawan: Chemistry Lama, Standar Baru
Ganda putra bersama Tony akan menjadi tontonan nostalgia. Namun ini bukan sekadar reuni. Ini eksperimen taktik yang layak ditunggu. Keduanya sama-sama cepat membaca arah kok. Keduanya juga senang bermain flat dengan sudut tajam. Maka, pola yang mungkin kita lihat:
- Formasi berlapis saat bertahan: satu pemain menutup drive, satu lagi mengantisipasi block pendek.
- Rally pendek di awal untuk memancing tanggapan; kemudian pukulan ke blind spot lawan.
- Rotasi rapi pasca-smash: yang men-smash langsung mundur separuh langkah untuk counter-lift.
Di kelompok usia 40+, kecepatan kaki memang menurun. Namun kecepatan pikiran dan kualitas eksekusi tetap bisa unggul. Inilah konteks yang membuat Hendra–Tony berbahaya.
Lini Indonesia: Bukan Hanya Hendra
Walau Hendra jadi magnet utama, kontingen Indonesia membawa lebih dari sekadar nama besar. Debby Susanto turun ganda campuran 35+ dan juga ganda putri 35+ bersama Jody Barral (Skotlandia). Duet lintas negara ini terasa segar. Mereka bisa menyelinap jauh jika berhasil mengeksekusi game plan yang disiplin.
Kita juga punya modal sejarah. Pada edisi 2023, Alvent Yulianto Chandra/Fran Kurniawan merebut gelar ganda putra 35+. Catatan emas tersebut memberi kepercayaan diri. Tim pelatih tahu rute menuju podium. Atlit memahami ritme pertandingan. Dan publik punya harapan yang realistis.
Peta Persaingan: Siapa yang Perlu Diwaspadai?
Turnamen senior sering menghadirkan dark horse. Ada mantan pemain Eropa yang dulu langganan semifinal Super Series. Ada pasangan Asia yang diam-diam tetap aktif di liga veteran. Karena itu, peta persaingan perlu kita pecah per nomor:
Ganda Campuran 35+
- Pasangan Eropa biasanya unggul di servis-return. Mereka rapi dan sabar.
- Pasangan Asia Timur memiliki rally tolerance tinggi dan penguasaan net yang licin.
- Hendra/Debby harus menjaga akurasi third shot. Jika third shot rapi, poin akan mengalir.
Ganda Putra 40+
- Eks juara dunia yang masih rajin latihan akan berbahaya. Mereka tahu cara “membaca” pertandingan.
- Pasangan Eropa Utara kerap mengutamakan drive flat dan rotasi cepat. Ini butuh antisipasi.
- Hendra/Tony harus memenangi gim pertama. Statistik di level senior menunjukkan, fast starter punya peluang lebih besar untuk menutup pertandingan.
Jadwal, Format, dan Kunci Manajemen Energi
Kejuaraan ini berjalan dalam satu pekan. Intensitasnya padat. Oleh sebab itu, manajemen energi menjadi kunci:
- Pemanasan singkat tapi spesifik: targetkan footwork ke depan-belakang dan kanan-kiri untuk menyalakan refleks.
- Variasi servis sejak poin pertama: jangan ulang pola yang sama lebih dari dua kali berturut-turut.
- Timeout taktis: gunakan untuk “memecah” momentum lawan, bukan hanya mengambil napas.
- Recovery ringan: cool down, hidrasi, dan karbohidrat cepat (buah/gel) di sela gim. Ini membantu stabilitas tenaga.
Strategi Menghadapi Rival: Simpel, Efisien, Menyengat
Di level ini, reli jarang berlarut-larut jika set-up awal bersih. Karena itu, strategi realistis untuk pasangan Indonesia adalah:
- Serang bahu non-dominan lawan pada pukulan ketiga. Banyak poin lahir dari area ini.
- Ubah kecepatan kok secara berkala. Smash keras sekali–dua kali, lalu drop shot tajam. Pola “keras–lembut–keras” sering memecah ritme.
- Minimalkan unforced error. Di kategori senior, hadiah poin gratis sering menentukan set.
Dampak Comeback Hendra: Relevansi, Inspirasi, dan Ekosistem
Kembalinya Hendra menghadirkan tiga dampak langsung. Pertama, relevansi: publik kembali menoleh ke turnamen senior, mengangkat nilai tontonan. Kedua, inspirasi: atlet muda melihat contoh disiplin yang panjang umurnya. Mereka belajar bahwa karier tidak berhenti di usia 30-an. Ketiga, ekosistem: klub dan akademi mendapat bahan promosi. Mereka bisa menunjukkan jalur karier yang sustainable, termasuk di level senior.
Kans Medali Indonesia: Rasional, namun Optimistis
Apakah Indonesia bisa merebut gelar? Bisa. Alasannya konkret. Hendra memiliki winning habit; Debby masih sangat kompetitif; dan Tony memberi dimensi taktik yang matang. Di atas kertas, setidaknya dua nomor berpeluang melaju hingga babak-babak akhir.
Tentu, kita tidak boleh gegabah. Margin di turnamen senior tipis. Kaki bisa terasa berat di hari keempat. Servis bisa naik turun. Namun, selama rotasi rapi dan error terjaga, peluang selalu terbuka.
Yang Perlu Ditunggu Fans
- Servis pendek Hendra yang menyusup tepat di garis. Ini sering jadi pemantik poin cepat.
- Kill di depan net ala Debby. Timing-nya kerap membunuh ritme lawan.
- Drive menyilang Hendra–Tony yang tipis menyentuh garis. Sulit ditebak dan sulit dikejar.
- Rotasi bertahan yang rapi: satu maju menutup net, satu mundur setengah untuk mengantisipasi lob.
FAQ Singkat
Apakah Kejuaraan Dunia Senior termasuk kalender tur profesional? Tidak. Namun reputasinya tinggi karena diikuti banyak legenda dan eks-juara.
Hendra turun di nomor apa saja? Ia tampil di ganda campuran 35+ bersama Debby Susanto dan ganda putra 40+ bersama Tony Gunawan.
Apakah Indonesia punya rekor juara? Ya. Edisi 2023 melahirkan juara ganda putra 35+ melalui Alvent/Fran. Rekam jejak ini menjadi modal mental yang penting.
Kesimpulan: Comeback yang Pantas Ditunggu
Hendra Setiawan kembali, dan itu kabar baik untuk bulu tangkis Indonesia. Turnamen ini mungkin berlabel “senior”, tetapi kualitasnya tak bisa diremehkan. Duet bersama Debby Susanto serta kerja sama ulang dengan Tony Gunawan memberi kita harapan rasional. Targetnya jelas: tampil efisien, menjaga transisi, dan menutup pertandingan tanpa drama. Jika semua berjalan sesuai rencana, kita bukan hanya menyaksikan nostalgia. Kita juga berpeluang merayakan gelar.
Berita lainnya: Arema FC VS PSBS Biak 4 – 1 di Liga Super 2025-2026